Massa Tidak Resmi

Foto ilustrasi

Oleh: Denni NJA

KEBEBASAN berpendapat dan berekspresi saat ini membuka peluang bagi berbagai kelompok untuk bersuara dan didengar.

Meluasnya jaringan media sosial bukan hanya memberdayakan dan mempersenjatai warga sipil untuk semakin terlibat dan bersuara di ruang publik.

Namun, pertumbuhan media sosial juga menghantar kita memasuki dunia baru, perubahan sosial, perubahan yang bersejarah, luar biasa besarnya, luar biasa semangat mereka. Mereka ini sosok sosial baru dalam sejarah politik Indonesia. Nama mereka adalah: netizen.

Sebagai mahkluk sosial, netizen menuntut cara pandang, inspirasi, reaksi, dan aksi baru.

Atau sebaliknya, netizan menjadi mahluk yang diperalat teknologi untuk kepentingannya: terus menerus cari Wifi, minta apps, minta update, minta disuapi listrik untuk isi ulang baterai, minta diperhatikan, dan minta like postingan.

Di sisi lain, kita akan melihat dengan sudut pandang berbeda. Mereka biasa dengan sebutan: relawan. Sosok ini juga lahir dari kandungan media sosial. Massa ini berbeda banget dari gerakan-gerakan sosial yang tersusun dari partai politik dan organisasi konvensional.

Ini massa yang sangat cair dan tersebar. Mereka datang dan pergi dengan cepat, ibarat post Facebook atau Twitter yang lewat sejenak lalu lenyap. Lalu muncul lagi karena ada yang mengangkatnya ke permukaan, tetapi cepat hilang lagi. Nah, yang paling menarik adalah massa yang tidak resmi itu.

Prinsipnya adalah sejauh apa publik percaya ide-ide dan gagasan-gagasan yang muncul di permukaan dapat menjadi sarana politik alternatif dan turut menghasilkan perubahan?

Karena hakikatnya. Tidak ada yang tidak berubah selain perubahan itu sendiri.

*) Penulis adalah pemerhati sosial

 

2 komentar

Leave a Reply